Senin, 12 Maret 2012

Pembalasan Ancruk

Kerjasama yang Kompak
Pembalasan Ancruk

Memang ada sedikit persamaan dongeng "Kera dan Kepiting" (Jepang) dengan "Penyanyi dari Bremen" (Eropa). Adakah hubungan dongeng Jepang dan Eropa itu? Apakah dongeng yang terkenal di Eropa itu asli Eropa?

-------------

MEMANG benar, kota Bremen terletak di Jerman, tetapi dapatkah dikatakan cerita itu berasal dari Jerman? Dalam buku berjudul "Folktales and Storytelling" yang ditulis oleh Margaret Read MacDonald, disinggung bahwa cerita yang didongengkan dengan teknik khas Margaret itu berasal dari suku Appalachian, North Carolina. Teknik bercerita yang komunikatif itu hanya mengandalkan bunyi-bunyi dan nyanyian dari hewan-hewan yang dijumpai seorang pemuda bernama Jack di tengah jalan.

Permasalahan mengenai asal-muasal cerita yang mirip itu memerlukan pemikiran dan penelitian yang mendalam. Saya yakin cerita-cerita sejenis itu masih banyak tersebar di seluruh dunia. Berikut dikutipkan sebuah dongeng dari Bali yang sangat mirip dengan dongeng Jepang dan Eropa itu. Kalau dongeng Eropa itu menyebut nama kota Bremen, maka dongeng Bali ini menyebut nama kota Gegelang.

***

Di ibukota kerajaan Gegelang tinggal seorang miskin bernama Men Paluk. Pekerjaannya mencari ancruk ke dalam hutan. Ancruk itu dijualnya di pasar Gegelang. Karena persediaan terbatas, dalam waktu singkat ancruk itu sudah habis terjual.

Prabu Gegelang amat senang makan ancruk. Tanpa ancruk yang gurih itu, beliau tidak enak makan. Setelah berbulan-bulan Men Paluk tidak lagi berjualan ancruk, Paduka Raja mengajak para patih dan pemburu istana mencari ancruk ke dalam hutan.

Demikianlah, ancruk-ancruk yang bersembunyi di balik pelepah enau itu dicopot dan dimasukkan ke dalam tong. Tak perduli apakah ancruk-ancruk itu sudah tua atau masih muda. Perburuan berakhir setelah pemburu-pemburu itu mengira tak ada lagi ancruk yang tersisa.

Ternyata masih ada seekor ancruk yang selamat. Ia luput dari perburuan. Dari celah pelepah enau, ia melihat tangan-tangan pemburu itu mencopot saudara-saudaranya satu persatu. Ia amat sedih dan menahan dendam yang mendalam.

Pada suatu hari timbul keberaniannya untuk membalas dendam. Ia pergi sendirian.

''Hendak ke mana kau, Ancruk?'' tanya segumpal tahi sapi.

''Ke Puri Gegelang tujuanku.

Hendak kubunuh Sang Prabu

Yang memburu dan menghabiskan

Saudara dan handai taulan''

Tahi sapi itu amat kasihan kepada nasib ancruk, lalu katanya, ''Kalau demikian aku ikut.''

Makin jauh perjalanan ke Gegelang, makin banyak pula sahabat Ancruk. Mereka adalah duri, kelelawar, harimau dan ular. Malam hari mereka tiba di istana Gegelang. Atas perintah Ancruk, mereka menyebar berjaga-jaga. Ular bersembunyi di paraduan raja, tahi sapi di bawah tangga, duri di halaman, kelelawar dekat perapian, dan harimau di kamar mandi. Untuk memudahkan mengirim isyarat, Ancruk memilih tempat di atap rumah.

Ketika malam tiba, Sang Prabu merebahkan badannya di peraduan. Ular menyembul perlahan-lahan lalu tiba-tiba mematuk raja. Raja, menjerit kesakitan. Permaisuri terbirit-birit turun tangga hendak minta tolong. Baru beberapa langkah, permaisuri itu jatuh terpeleset. Kakinya menginjak tahi sapi. Pelayan segera membantunya, tetapi kakinya tertusuk duri. ''Aduh!'' serunya.

Permaisuri memanggil pelayan lainnya agar segera menghidupkan lampu. Namun setiap lampu yang menyala segera dipadamkan oleh kelelawar. Dalam kegelapan itu permaisuri mencoba membersihkan kaki ke kamar mandi. Tetapi di tengah jalan dikejutkan oleh auman harimau. Permaisuri ketakutan lalu lari pontang-panting.

***

Makhluk yang lemah seperti ancruk itu pun tidak mau komunitasnya musnah. Ia tak mampu melawan kekuatan yang maha besar. Demi membela hak hidup saudara sebangsanya, maka ia pun rela melakukan puputan. Tindakan itu dilakukan pula oleh kepiting-kepiting (cerita Jepang). Dengan semangat berani mati, makhluk lemah itu berjuang mencapai tujuan.

Ternyata perjuangan mereka mendapat simpati dari teman-temannya yang memiliki adat-istiadat dan kebudayaan yang sangat berbeda. Simpati itu melahirkan kerjasama yang kompak. Melalui strategi yang sangat tepat, kekuatan-kekuatan yang lemah namun profesional itu dapat mengalahkan musuk yang besar.

Seorang pemimpin (raja) seharusnya memberi contoh bagaimana menjaga kehidupan yang harmonis. Bukan semata-mata memenuhi hawa nafsu (pesta ancruk), sehingga mengorbankan kekuatan yang lemah. Dalam kehidupan yang harmonis, kekuatan-kekuatan itu saling menghargai dan saling menguntungkan.

* made taro


View the original article here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar